BREAKING NEWS

Fashion

Minggu, 15 November 2015

Karawang Tuan Rumah Hari Aksara Internasional

Karawang (ANTARA News) - Direktur Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikbud, Erman Syamsudin mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional pada tahun ini diselenggarakan di Karawang, Jawa Barat, 22--24 Oktober.

"Karawang dipilih karena dianggap proaktif dalam memberantas buta aksara. Karawang juga memiliki kinerja yang baik dalam upaya memberantas buta huruf," ujar Direktur Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikbud, Erman Syamsudin, di Karawang, Jumat.

Karawang berhasil membebaskan 117.000 orang dari buta huruf. Kemndikbud menganggap hal itu sebagai prestasi dan berharap daerah lain juga ikut serta dalam upaya pemberantasan buta aksara.

Pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional akan dicanangkan "Gerakan Masyarakat Membaca" oleh Mendikbud, Anies Baswedan di hadapan warga belajar Pascakeaksaraan Dasar.

Selain itu, Mendikbud juga akan mencanangkan aplikasi Dapodik PAUD dan Dikmas.



Selain itu, akan hadir pula perwakilan UNESCO, Komisi X DPR, Eselon I dan II di lingkungan Kemendikbud, Bupati dan Wali Kota se-Jawa Barat, Kementerian/Lembaga terkait, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi se-Indonesia

dan Kepala UPT PAUD dan Dikmas se-Indonesia.

"Kegiatan yang biasa kami lakukan di Jakarta akan kami bawa ke Karawang, sehingga diperkirakan 2.000 orang akan hadir. Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya," jelas dia.

Hari Aksara Internasional (HAI) biasa diperingati setiap tanggal 8 September. Akan tetapi pada 2015, Kemdikbud menetapkan peringatan pada 22-24 Oktober 2015.

Sejumlah kegiatan juga diselenggarakan pameran Hari Aksara Internasional dan produk unggulan satuan pendidikan nonformal.

Selain itu, akan ada pula unjuk karya tulis warga belajar pascakeaksaraan dasar oleh 50.000 warga belajar di Kabupaten Karawang. Masih dalam rangkaian acara, juga akan digelar lokakarya peningkatan mutu layanan TBM untuk pemberdayaan masyarakat.

Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) pertama kali dilakukan pada 1966. Perayaan HAI dilandasi oleh semangat untuk memberantas buta aksara di seluruh dunia, karena itu HAI di peringati oleh setiap negara untuk mengingatkan pentingnya keaksaraan orang di seluruh dunia.

Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Pendidikan Formal atau Non Formal

Pendidikan Formal
Dalam lingkungan pendidikan formal, proses perkembangan lembaga pendidikan keluarga dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan kebudayaan dan peradaban manusia. Lembaga pendidikan dalam bentuk sekolah formal ini berkembang juga dengan adanya perubahan stuktur dan fungsi masyarakat, dimana sekolah akan melayani pendidikan formal, seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sampai tingkat pendidikan tinggi. Lembaga ini meneruskan penguasaan anak terhadap nilai dan norma yang telah didapat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. 
Pendidikan formal dituntut untuk dapat mengenalkan, belajar, dan memahami lingkungan sosial yang ada. Pendidikan formal ini mengupayakan pada anak dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya secara emosional maupun sosial, melainkan juga pada penguasaan dan  intelektualitasnya. Melalui proses pendidikan formal, seorang anak dapat memiliki sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang semuanya merupakan wujud abstrak dari kebudayaan. Proses pendidikan dapat memperkuat penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan sosial yang baru. Pendidikan formal merupakan kegiatan pendidikan yang dilaksanakan secara formal dalam suatu lembaga pendidikan formal, yang bertugas meneruskan penguasan anak terhadap nilai dan norma yang telah didapat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, untuk dikembangkan dalam rangka meneruskan dan mempertahankan kebudayaan. Dalam pada itu, pendidikan formal memiliki aturan-aturan yang jelas. 
Sebagai pusat kegiatannya adalah sekolah yang memiliki izin resmi dalam penyelenggaraannya. Adapun ciri-ciri pendidikan formal adalah sebagai berikut :
a) Pendidikan berlangsung dalam ruang kelas yang sengaja dibuat oleh lembaga pendidikan formal.
b) Guru adalah orang yang ditetapkan secara resmi oleh lembaga.
c) Memiliki administrasi dan manajemen yang jelas.
d) Adanya batasan usia sesuai dengan jenjang pendidikan.
e) Memiliki kurikulum formal.
f) Adanya perencanaan, metode, media, serta evaluasi pembelajaran.
g) Adanya batasan lama studi.
h) Kepada peserta yang lulus diberikan ijazah.
i) Dapat meneruskan pada jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan Non-Formal
Di dalam lingkungan non-formal, masyarakat merupakan bentuk tata kehidupan sosial yang terdiri dari tata nilai dan tata budaya sendiri. Setiap masyarakat akan setia dan mengabdi kepada masyarakatnya dimana mereka dididik oleh dan untuk masyarakat. Masyarakat inilah yang akan memberi sifat-sifat dasar suatu pendidikan nasional. Lingkungan ini memberikan pelayanan berupa pendidikan praktis dan sikap mental yang fungsional serta relevan agar mereka mampu meningkatkan mutu dan taraf hidup, serta mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Proses pendidikan dalam lingkungan nonformal masyarakat, kegiatan atau proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat yang sifatnya mendesak. Tujuan diselenggarakannya pendidikan akan mengarah pada diperolehnya lapangan pekerjaan bagi para peserta didik atau meningkatkan pendapatan. Pendidikan ini dikenal dengan istilah Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Kegiatannya di luar keluarga dan luar sekolah secara non-formal dalam masyarakat. Adapun ciri-ciri dari pendidikan luar sekolah tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Pendidikan berlangsung dalam lingkungan masyarakat.
  2. Guru adalah fasilitator yang diperlukan.
  3. Tidak adanya pembatasan usia.
  4. Materi pelajaran praktis disesuaikan dengan kebutuhan pragmatis.
  5. Waktu pendidikan singkat dan padat materi.
  6. Adanya manajemen yang terpadu dan terarah.
  7. Tujuan pembelajaran adalah membekali peserta dengan keterampilan khusus untuk persiapan diri dalam dunia kerja.

 Perubahan yang terjadi pada perubahan dan perkembangan sosial budaya pada masyarakat, perubahan nilai dan sikap yang dimiliki masyarakat membawa pengaruh pada perkembangan pendidikan masyarakat. Dengan perubahan pada masyarakat yang menyebabkan terjadinya diferensiasi pada pekerjaan yang semakin kompleks, mengakibatkan perkembangan pada pendidikan dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, kejuruan, atau pendidikan tinggi yang menyediakan berbagai spesialisasi dalam pemilihan jurusan."Th3"

Mendidik Anak Ala Positive Parenting

Tidakkah Anda akan merasa lebih baik ketika orang yang otoritasnya lebih tinggi dari Anda, misal, orangtua atau bos bisa berbicara dengan nada yang nyaman? Tidakkah Anda akan merasa lebih bisa menerima ajaran atau masukan dari guru atau orang yang lebih tua dari Anda jika hal itu disampaikan dengan nada yang kalem? Begitu pun yang dirasa oleh anak Anda mengenai sikap orangtuanya. Dr. Adriana S. Ginanjar, Koordinator Klinik Terpadu Fakultas Psikolog Universitas Indonesia mengatakan, bahwa sikap positive parenting, bisa membantu menerapkan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan anak.

Dalam presentasinya di Rumah Belajar Persada, Jatibening, beberapa waktu lalu, dr. Adriana menyampaikan bahwa positive parenting, yakni pola pengasuhan anak yang menekankan pada sikap positif. Menurutnya, positive parenting bisa dilakukan dengan membantu anak merasa bangga atas dirinya dengan menunjukkan sikap positif dan penuh kasih sayang. Tak lupa pula untuk memberi perhatian lebih saat anak mengikuti aturan, memberi bantuan, dan menunjukkan afeksi. Sementara dalam pembentukan disiplin, orangtua mengajarkannya dengan konsisten dengan konsekuensi yang jelas.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mengasuh anak dengan cara positive parenting menurut dr. Adriana adalah:

1. Mengenali Perkembangan Anak

Kenali kemampuan anak, baik kemampuan kognitif, keterampilan fisik, perkembangan emosi, caranya berinteraksi dengan orang lain, juga masalah-masalah khusus yang dihadapinya.


2. Meluangkan Waktu Berkualitas

Orangtua sebaiknya mau membuka diri untuk mengetahui dunia si kecil. Agar bisa mencoba melihat dunia dari kacamatanya. Cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan menyediakan waktu khusus bagi anak, memberikan perhatian penuh saat meluangkan waktu berkualitas tersebut, isi dengan kegiatan menyenangkan, dan dilakukan dengan rutin. Dr. Adriana menyarankan untuk menciptakan waktu khusus sebelum tidur dengan membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak yang masih balita. Atau bagi anak yang sudah remaja, cobalah sesekali membaca buku yang ia sedang baca, misal chicklit atau novel.


3. Memberi Dukungan dan Pujian

Tak hanya orang dewasa yang butuh diberikan pujian dan dukungan. Anak-anak pun seperti itu. Mereka butuh afirmasi dan apresiasi, terlebih dari orang yang mereka anggap penting. Dr. Adriana juga menekankan, saat akan memberikan pujian, pastikan tujuannya tepat dan spesifik. Kenali pula karakter anak, hal ini sangat penting, pada saat ingin menyampaikan pujian pada anak pun amat perlu untuk menyesuaikan cara Anda dengan karakternya. Ada anak yang suka dipuji langsung, tapi tidak di hadapan banyak orang, dan sebaliknya. Dukungan dan pujian merupakan cara untuk mengarahkan tapi tidak memaksa anak, plus merupakan cara untuk memberikan semangat agar bangkit kembali ketika ia sedang terjatuh.


4. Menjadi Model yang Baik

Bagaimana ia bisa percaya atas apa perkataan dan nasihat orangtuanya jika Anda tidak melakukan sendiri apa yang diperintahkan kepadanya? Ketika Anda ingin anak bisa berlaku sesuai yang diinginkan, sebaiknya Anda tidak hanya bicara tetapi mencontohkan dengan tingkah laku. Cobalah untuk membuka diri dan tidak “jaim” kepada anak, agar ia terbiasa untuk berdiskusi dan bertanya dengan Anda. Dengan memberi contoh yang baik, Anda juga sekaligus mendorongnya untuk menjadi anak teladan.


5. Memberikan Konsekuensi Logis

Dr. Adriana menyarankan agar Anda tidak terlalu mengekang anak. Ketika Anda sudah memberitahukan konsekuensi dari tindakan-tindakan tertentu dan ia tetap melakukan tindakan tersebut, asalkan masih dalam batas yang aman, biarkan ia merasakan konsekuensi tersebut. Kadang hal ini diperlukan untuk meredam rasa penasaran si kecil. Pastikan sangsi atau konsekuensi tersebut masih dalam batasan logis dan bisa dimengerti oleh si anak. Ini akan membantu si kecil belajar bertingkah laku. Cara ini tergolong cukup efektif.

6. Fokus Pada Tingkah Laku Positif
Jangan hanya melarang. Berikan pujian atau reward atas tindakan-tindakan positif yang baik dari si kecil. Saat akan memberikan reward, pastikan dalam bentuk yang tepat dan benar-benar disukai si kecil. Mencoba tawar-menawar dengan si kecil untuk melakukan sesuatu yang ia suka dengan tindakan yang Anda tahu sulit untuk ia lakukan akan menjadi motivasi baginya. Namun, jangan sampai untuk segala hal harus diberikan iming-iming. Abaikan tingkah laku negatif dari anak yang memancing konflik berulang.


7. Bersikap Tegas

Terapkan aturan secara konsisten. Tegurlah anak jika ia berbuat salah dan itu merupakan hal aturan yang sudah disepakati. Jangan lupa untuk bersikap adil pada semua anggota keluarga.


8. Tanamkan Nilai-nilai

Ajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan, seperti sopan santun, tolong-menolong, berbagi, saling mengasihi, dan toleransi. Caranya? Berikan contoh konkret dengan menjadi model. Cara lainnya bisa juga dengan pergi menjalankan ritual agama bersama keluarga.


9. Lakukan Diskusi dan Negosiasi

Diskusi dan negosiasi adalah hal yang wajar dilakukan. Saat seperti ini, penting untuk menghargai pendapat anak dan fleksibel dalam menerapkan aturan. Dengarkan pendapat si anak dan mencoba mencari pemecahan permasalahan bersama. Ajar anak untuk bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain. Untuk anak yang sudah besar, bicarakan konsekuensi jika ada negosiasi seputar aturan.


10. Ciptakan Komunikasi Efektif

Yang namanya komunikasi efektif dengan lawan bicara, butuh kesepakatan. Dalam hubungan personal, tentu komunikasi akan lebih efektif jika terjadi dalam dua arah. Selain Anda harus bisa menyampaikan pesan dengan jelas dan berharap ia bisa mengerti, Anda juga harus bisa mendengarkan dengan hati. Mendengarkan dengan hati adalah berusaha menangkap apa yang dirasakan oleh si anak, dengan tidak emosi, fokus dan konsentrasi kepadanya, tidak terbagi dengan hal-hal lain.


11. Disiplin Jelas & Konsisten

Ketika membuat aturan di dalam keluarga, pastikan aturannya cukup jelas dan fleksibel, juga terdapat kesepakatan di antara keluarga. Jika orangtua ada ketidaksepakatan, pastikan tidak bertengkar di depan anak. Jika ada konsekuensi, beritahukan dan sepakai sejak awal. Hal-hal semacam ini akan membantu mendorong anak untuk mandiri.


Dr. Adriana menyimpulkan, dalam hal aturan, jika disampaikan dengan jelas dan sudah disepakati bersama, lalu dijalankan dengan konsisten, akan menjadi hal yang positif.

Artikel Mengenai Pendidikan Karakter Anak

Pendidikan Karakter Anak - Karakter merupakan etika yang berkaitan dengan tingkah laku dan sikap seseorang. Artikel pendidikan karakter menjadi sangat penting dalam upaya untuk memberikan pengertian pada anak maupun orang tua. Proses pengembangan pendidikan karakter harus dimulai sejak dini agar anak dapat memiliki landasan yang kuat mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Pendidikan karakter pada anak yang efektif adalah pada saat anak berumur 5-11 tahun. Masa ini menjadi masa keemasan bagi anak dalam mengembangkan karakter pribadinya. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus memanfaatkan waktu ini untuk menanamkan karakter-karakter baik pada anak. Pilar-Pilar serta Artikel Pendidikan Karakter Anak Pilar-pilar pendidikan karakter anak didasarkan pada nilai-nilai etis, yaitu bahwa setiap orang bisa menyetujui sistem nilai yang tidak mengandung unsur politis, bias budaya, maupun religius. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu siswa mengenal artikel pendidikan karakter sekaligus memahami mengenai pilar pendidikan karakter dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Artikel pendidikan karakter, pertama adalah mengenai kepercayaan (trustworthiness). Nilai ini dapat ditanamkan pada anak dengan membiasakan berperilaku jujur, tidak boleh menipu, menjiplak atau pun mencuri.


Agen penyalur pendidikan karakter harus mampu mengajari siswa untuk menjadi handal, yaitu melakukan apa yang diucapkan, memiliki mental untuk melakukan hal yang benar, serta membangun reputasi yang baik dan patuh. Nilai kepercayaan ini haruslah ditanamkan pada diri sendiri, keluarga, teman, maupun bangsa. kedua adalah respect (menghargai). Anak-anak harus diajari bagaimana bersikap toleran kepada perbedaan, selalu memperhatikan sopan santun, mempertimbangkan perasaan orang lain, dan menghargai sesama. Selanjutnya adalah tanggung jawab. Anak-anak harus dibekali rasa tanggung jawab yang tinggi, yaitu dengan menguasai kontrol pada diri sendiri, berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan segala konsekuensi atas tindakannya, serta berani menanggung apa pun akibat yang telah dilakukan. Selanjutnya anak harus ditanamkan rasa peduli terhadap sesama, mampu bersikap adil, serta memiliki rasa cinta tanah air yang sangat tinggi. Artikel pendidikan karakter sebaiknya mengungkapkan beberapa hal penting ini untuk upaya membentuk karakter anak.

Pilar-Pilar serta Artikel Pendidikan Karakter Anak

Pilar-pilar pendidikan karakter anak didasarkan pada nilai-nilai etis, yaitu bahwa setiap orang bisa menyetujui sistem nilai yang tidak mengandung unsur politis, bias budaya, maupun religius. Artikel Beberapa

hal yang dapat dilakukan untuk membantu siswa mengenal artikel pendidikan
karakter sekaligus memahami mengenai pilar pendidikan karakter dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

Artikel pendidikan karakter, pertama adalah mengenai kepercayaan (trustworthiness). Nilai ini dapat ditanamkan pada anak dengan membiasakan berperilaku jujur, tidak boleh menipu, menjiplak atau pun mencuri. Agen penyalur pendidikan karakter harus mampu mengajari siswa untuk menjadi handal, yaitu melakukan apa yang diucapkan, memiliki mental untuk melakukan hal yang benar, serta membangun reputasi yang baik dan patuh. Nilai kepercayaan ini haruslah ditanamkan pada diri sendiri, keluarga, teman, maupun bangsa. kedua adalah respect (menghargai). Anak-anak harus diajari bagaimana bersikap toleran kepada perbedaan, selalu memperhatikan sopan santun, mempertimbangkan perasaan orang lain, dan menghargai sesama.

Selanjutnya adalah tanggung jawab. Anak-anak harus dibekali rasa tanggung jawab yang tinggi, yaitu dengan menguasai kontrol pada diri sendiri, berpikir sebelum bertindak, mempertimbangkan segala konsekuensi atas tindakannya, serta berani menanggung apa pun akibat yang telah dilakukan. Selanjutnya anak harus ditanamkan rasa peduli terhadap sesama, mampu bersikap adil, serta memiliki rasa cinta tanah air yang sangat tinggi. Artikel pendidikan karakter sebaiknya mengungkapkan beberapa hal penting ini untuk upaya membentuk karakter anak.

 


 
Back To Top
Distributed By Blogger Templates | Designed By OddThemes