Pada sebuah
acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik
pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing.
Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang
menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orangpun
bertepuk tangan.
Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk
membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau
hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak,
akhirnya dia menjawab:..... "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama
adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu
bermain-main".
Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap
memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Diapun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain
celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan
cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat
bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata
apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.
Sepulangnya kami
kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan
membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK?
Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi
membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil
yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran
dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh
kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang
paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu
mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.
Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi
bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan
penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan
kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus
bertepuk tangan dengan sangat gembira.
Dia sering kali lari ke
belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan
yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau
mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan
seorang pengurus rumah tangga cilik.
Ketika makan, ada satu
kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si
jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue.
Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling
membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir
anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk
berdamai.
Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat
gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil
tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia
mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat
makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan
guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing. Mereka terlihat begitu
gembira.
Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali
kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah
anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi.
Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS
YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA.
Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!
Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu
memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan
banyak lagi.
Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.
Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku
yang sedang merajut selendang leher tiba2 menjawab “Bu guru pernah
mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang
bertepuk tangan di tepi jalan.”
“IBU, …..AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN, …. AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.”
Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.
Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak
orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun Anakku
memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah
tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan.
Jika ia
bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa
bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK2 KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG
BIASA YANG BERHATI BAIK & JUJUR…
(Cerita ini didapat
dari sebuah post. Kami tulis ulang dengan beberapa penambahan &
pengurangan. Mudah2an bisa jadi inspirasi)
Yuk like & share
Anakku Anak Berkarakter